Masuk Tengah : Tentang 3 wanita yang berebut tempat di masing-masing hati


Wanita itu berteriak histeris. Memecahkan kaca jendela. Wajahnya begitu menyeramkan. Seperti orang kesurupan. Tak ada yang bisa menghentikannya dengan ketidakwarasannya itu.

"Aku benci pengkhianatan. Kenapa pergi diam-diam tanpa sepengetahuanku? Kenapa mesti di belakangku? Kenapa tidak ajak aku ikut serta? Kenapa???" dia berteriak histeris membuat tiap mulut yang menyaksikannya terbungkam. 

Apa hendak dikata? Nasi telah menjadi bubur. Tak bisa dikembalikan seperti semula.   Wanita paruh baya yang tetap memilih hidup sendiri di usianya yang tak muda lagi itu diam tak berkutik. Mengikhlaskan jendela kamarnya pecah lebur oleh seseorang yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.

"Ayo kita ke atas!" ajaknya. Ia berusaha menyeimbangkan rasa. Dua orang wanita remaja yang ia angkat sebagai adeknya tengah bersiteru. Apakah karena dia? Ia merasa bersalah. Padahal dua remaja ini awalnya adalah dua sahabat karib yang saling berbagi rasa. Hingga suatu hari ia masuk di tengah mereka. 

Ini bukan perseteruan dua sejoli yang tertangkap basah karena perselingkuhan. Ini bukan tentang rasa cemburu yang di miliki wanita akibat lelakinya jalan bergandeng tangan bersama wanita lain. Bukan! Ini tentang rasa 3 wanita yang sulit untuk didefinisikan.

"Kepalaku pusing sekali!" seorang wanita lagi berkata lirih namun cukup terdengar. Bertolak belakang dengan yang satunya lagi karena jiwanya penuh emosi.

"Sabar ya. Sini ayuk pijit. Jangan banyak fikiran. Semua akan baik-baik saja."

"Bagaimana dengan dia?" tanya gadis itu penasaran.

"Dia sedang di atas. Nanti ayuk ke atas ya buat nenangin dia."

"Nggak apa-apa, Yuk. Ke atas aja. Aku nggak apa-apa, kok. Hanya pusing biasa." ucapnya mengalihkan wajah.

"Yaudah, kalau gitu ayuk ke atas. Khawatir dia malah terjun pula nanti."

Gadis yang bernama Zima itu hanya mengangguk.

***

"Tenang! Tenanglahh.. Biar ayuk jelaskan." 

"Tidak perlu. Semuanya sudah jelas!" jawabnya setengah berteriak. Ia benar-benar emosi setelah melihat kenyataan bahwa wanita ini telah berbohong dengannya. Ia mengaku sibuk saat dimintai tolong menemaninya membeli baju namun kepergok berjalan dengan sahabatnya sendiri.

"Bagaimana aku mau jujur denganmu kalau mau pergi dengan Zima sementara kamu terus mengekangku melarang dekat dengan Zima? Aku telah dulu berjanji mau menemani Zima sebelum kamu minta ditemani." ia berusaha menjelaskan seadanya.

"Katakan sekarang apa mau mu?" lanjutnya

"Aku mau ayuk jauhi dia. Jangan ada kontak lagi dengan dia"

"Aku tidak bisa!" jawabnya tegas

"Berarti sebaliknya, ayuk harus jauhi aku dan jangan ada kontak denganku."

Wanita paruh baya itu diam. Kenapa harus memilih dan kenapa dia begitu lemah menghadapi 2 bocah ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena rasa belas kasihannya yang begitu besar kepada dua remaja ini. Mereka memiliki masa dan latar belakang yang sangat berbeda namun semuanya cukup membuat miris. Satu sisi, ia beruntung bisa akrab, dekat dan menjadi kakak bagi mereka. Karena satu per satu kebiasaan buruknya berhasil ia tinggalkan. Sisi lain, kehidupan dua remaja ini memberinya banyak pelajaran hidup. Namun sekarang, ia malah menghadapi permasalahan lain yang cukup rumit.

Note: Cerita ini hanya fiktif belaka dan bakal di lanjutkan part nya kalau ada yang minta😃


Tidak ada komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan komentar yang baik-baik ya teman-teman. :-)

Blogger Perempuan Network

Blogger Bengkulu