Farewell (part 2)


“Astaghfirullahul adzim… Benarkah? Dimana? Bagaimana keadaanya sekarang”, Tanya  ku beruntun dengan sangat terkejut.

Setelah mendapat telpon dari Paman, aku bergeges menjemput anakku yang masih bayi lalu menuju rumah paman.

Adinda, adekku yang harusnya sekarang kelas 2 SMA, harus hidup dalam keadaan yang tidak normal. Sudah 3 hari ini ia diberi obat tidur oleh bidan desa. Sebenarnya aku tak tega dengan keadaanya sekarang. Rasanya ingin aku membuang semua obat itu dan membiarkanya beraktivitas seperti biasa. Namun, apalah daya. Jika tidak diberi obat penenang ataupun obat tidur, ia akan keluyuran kemana-mana tak tau arah. Adinda sudah lama tinggal bersama paman. Bahkan sejak ia masih umur 5 tahun sejak ditinggal ayah. Waktu itu aku juga tinggal bersama keluarga kami yang lain. Yaaa.. begitulah hidup kami. Terlunta-lunta akibat perceraian orang tua.

Semua baik-baik saja. Namun, menginjak umur Dinda yang ke 17 ia mulai menampakkan gejala-gejala depresi. Aku tidak tau apa yang terjadi. Selama ini aku mengira adinda baik-baik saja. Meski kami dekat, namun ia tidak pernah cerita kalau dia sedang ada masalah.

Ditelpon tadi, Paman bilang lagi kalau sakit Adinda kumat. Sakitnya kian parah. Paman sudah berusaha bujuk agar ia tenang namun tak jua berhasil.

Setelah sampai di rumah paman dan melihat keadaan Adinda yang seperti itu, akhirnya kami mufakat dan memutuskan untuk membawa Adinda ke rumah sakit jiwa di kota. Ya Allah. hatiku berontak. Adinda tidak gila. Ia hanya depresi. Begitulah caraku menenangkan diri sendiri. Sementara Adinda dalam ketidaksadaran. Apakah ini ada kaitanya dengan perpisahan ayah ibu kami yang tidak baik sehingga berimbas kepada kejiwaan Adinda?

*kembali ke masa ketika keluarga utuh

“Prakkkk…”, suara piring pecah berserakan. Malam itu ayah dan Ibu kembali bertengkar.

“Kan aku sudah bilang. Jangan berhutang. Apa aku kurang cukup menafkahi kamu? Bersabar sedikit. Kamu masih saja berhutang tanpa sepengetahuan aku.”, suara Ayah yang keras mengagetkanku.

Aku memeluk erat Adinda yang waktu itu beumur 8 tahun. Sementara aku baru  menginjak bangku SMA. Memasuki usia 16 tahun dan mulai mengenal arti sebuah keluarga.

Aku tau Adinda juga mendengar suara itu. Ia membalas pelukanku erat.

Begitulah ayah dan Ibu, mereka selalu saja bertengkar. Tidak hanya piring yang melayang bahkan tamparan ayah juga pernah melayang di pipi Ibu.

“Kamu kemana aja? Aku lapar. Nggak mikir apa suamimu ini kerja nafkahi kamu dan anak-anak. Nasi masih di masak. Lauk juga belum masak,”. Ayah marah untuk yang ke sekian kalinya.

“Maaf mas tadi aku keluar ada urusan sama bu Teti, aku tadi mau masak. Tapi listrik mati. Jadi semua pekerjaan terhenti”, Ibu berusaha membela diri.

“Ohh.. jadi kami lebin mentingin teman kami ketimbang suami?” Praakkk.. lagi-lagi ayah menampar.

Aku, meski sudah menginjak bangku SMA, namun  masih belum mampu untuk menenangkan mereka. Aku khawatir sama Ayah. Ayah sosok yang temperamental. Bahkan aku menilai Ayah tidak menyayangiku. Ia lebih sayang kepada Adinda. Ayah pilih kasih!..

Dan aku lebih memilih untuk pergi dari rumah ketika mereka lagi bertengkar. Memilih bermain dengan Rani. Sahabat yang selalu ada untukku. Yang setia mendengar cerita sedih keluargaku yang tidak harmonis. Keluarga ku tidak pernah harmonis setau ku. Kenapa hingga usiaku yang sudah 16 tahun ini ayah dan ibu masih bersatu? Itu karena ibu yang selalu berusaha mempertahankah rumah tangganya.

Siang itu, ketika aku pulang dari rumah Rani, aku melihat pipi Ibu sudah membiru dengan wajah sembab. Aku tau Ibu habis dipukuli oleh Ayah. Tapi ia selalu saja menyembunyikanya dari ku. Aku yakin jika saja rumah kami di tengah-tengah rumah warga,, mungkin kami sudah menghebohkan warga desaku. Tapi jarak rumah yang jauh, membuat tangisan dan kemarahan ayah teredam tenggelam dalam rumah yang kelam.

Pertengkaran seakan menjadi makanan sehari-hari aku dan Adinda setelah makan nasi yang barangkali dimasak dengan air mata ibu. Hingga akhirnya, malam puncak pertengkaran itu terjadi.

“Malam ini aku akan pergi dari rumah ini, aku akan membawa Adinda. Kamu urus saja anakmu Isna itu.”, samar aku dengar lagi suara gaduh Ayah malam itu dibalik bilik pintu kamar.

Ya Allah.. Ayah akan pergi, kemana? batinku

“Mas jangan gitu. Isna juga anak kita. Adinda juga anak kita. maafkan aku mas. Tolong jangan tinggalkan aku”, Perkataan Ibu memelas. Ibu terisak. Barangkali ia tidak tau apalagi yang harus ia katakan. Sementara Ayah mulai berkemas barang. Memasukan dalam tas selendang seperlunya.

“Jangan pernah cari aku!”, tegas ayah kepada Ibu yang masih saja menangis.

Ayah memasuki kamar kami. Ia menggendong Adinda yang masih tertidur pulas.

“Ayah??”, aku memegang tangan Ayah. Ntah itu mungkin pegangan yang terakhir kalinya hingga bara api kebencian itu berkobar.

Bersambung..

12 komentar

  1. Kalo orangtua kerap bertengkar, sedikit banyak emang bakal mempengaruhi psikologis anak ya dek. Kasian huhuuuu

    BalasHapus
  2. Jgn ada pertengkaran lagi..heheh

    BalasHapus
  3. Tantangan dalam berumah tangga memang besar ya. Pantesan aja pahala dalam membina rumah tangga sangat besar.

    BalasHapus
  4. Haduh, serem aja kalau baca yg ginian. Semoga kita semua fijauhkan dari kejafian sejenis itu, aamiin.

    BalasHapus
  5. Ceritanya bagus saat lanjutkan kak

    BalasHapus
  6. like a true story :')
    ditunggu lanjutan kisah nya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah kluar koq kak yg part 3.. Slmt mmbaca yaa

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan komentar yang baik-baik ya teman-teman. :-)

Blogger Perempuan Network

Blogger Bengkulu