Bukan Anak Nakal (Belajar jadi Ibu hebat untuk generasi hebat)


"Anakku tidak nakal"

Itu adalah kata-kata yang kubisikkan dalam hati saat seseorang yang mungkin refleks mengucapkan kata itu saat melihat anakku yang sedang aktif-aktifnya. 

Aku tau bagi sebagian orang, itu adalah hal yang  biasa. Anak nakal seumuran Rendra, mungkin biasa. Tapi jujur, aku begitu sensitif dengan kata-kata itu. Aku tau aku bukan ibu yang sempurna. Aku hanya ibu anak 1 yang belajar menjadi orang tua yang baik. Kadang aku khilaf juga memarahi anak pada saat ia begitu rewel. Yaaa meski pada akhirnya, aku nyesal juga. Karena aku sadar anak rewel pasti ada sebabnya. Bisa jadi ia capek, ia lapar, ia kepanasan, ia haus, ia ingin istirahat, ia ingin tidur, ia mau bebas, dan alasan lainnya. Terlepas dari itu, kerewelan anak adalah hal yang biasa. Namanya juga anak-anak. 

Baca juga: Tips agar anak tidak suka gigit

Namun perkara ucapan, aku berusaha sangat berhati-hati. Karena ucapan adalah do'a. Apalagi ucapan dari seorang Ibu sepertiku. Alih-alih ingin memberi pengertian ke anak agar tidak nakal, malah kita bakal men-judge atau men-cap anak kita nakal karena ucapan itu. Karena ucapan yang salah, memori atau otak anak kita merekam apa yang kita ucap sehingga menjadi perilakunya. 

Aku sadar ada kala aku capek terus mengawasi anakku yang nggak mau diem. Dia bergerak terus. Tapi saat orang bilang, "Itu tandanya anak kita pintar. Otaknya terus bekerja," maka saat itu pula lah aku me-reminder diri aku sendiri untuk bersabar.

Aku ingat kejadian waktu kami balik habis mudik lebaran kemaren. 

Kadangkala ia menjadi anak yang penuh pengertian 

Kami Mudik pake motor dari Bengkulu ke Desaku. Kalau dari Kaur ke Bengkulu nya naik travel. Pas baliknya pake motor juga. Tapi ada Paman sekeluarga yang bawa mobil dan mau balik ke Bengkulu. Kebetulan kami baliknya di hari yang sama. Ada slot kursi kosong kalau kami (aku dan Rendra) mau barengan beliau. Biar suami naik motor sendiri. Aku dan suami sepakat, kalau cuaca cerah kami naik motor saja. Tapi kalau hujan, kami numpang mobil Paman. Awalnya memang agak gerimis. Kami menunggu sebentar, dan setelah reda dan terang, kami berangkat naik motor. 

Semua berjalan lancar dari kami singgah di Air Rami, hingga di rumah Abak di Seblat.  Tak lama kami meninggalkan rumah Abak, motor kami mulai bertingkah. Akhirnya masuk bengkel. Dan benar saja! ada mesinnya yang rusak dan harus diganti baru. Saat menunggu motor diperbaiki, hujan badai datang. Lumayan kencang badainya hingga kami melipir masuk ke pondokan bengkel. Cuaca dingin sekali. 

Dan Alhamdulillah tak lama, motor berhasil diperbaiki dan siap dipakai. Aku ngobrol ke Rendra, 

"Rendra, kita berangkat ya, Nak!" bisikku. 

"Ya!" jawabnya dengan polos. Gaya anak 16 bulan yang baru belajar ngomong. 

"Rendra jangan rewel, ya!"

"Ya!"

"Nanti Rendra bobok, ya! Peluk Bunda!"

"Ya!" jawabnya lagi. 

"Hari dingin. Nanti Rendra peluk bunda aja dan bobok di jalan, ya." ulangku menegaskan. 

Baca juga: Tips cepat kontraksi

"Ya!"

Akhirnya kami naik motor. 

"Baca do'a dulu yok!" ajakku. 

Rendra langsung angkat tangan berdo'a. Belum selesai membaca Bismillah dia udah mengusapkan tangannya ke muka. "Aamiinn.."

Tanda do'a nya udah selesai. Aku tertawa. Lucu liat tingkahnya. 

"Subhanalladzii sakhharolanaa hadzaa wa maa kunnaa lahuu mukrininnn.."

Motor berjalan. Dan benar saja ia nurut. Ia mendekapku dan langsung terlelap. Disitu aku terharu. Karena meski ia super aktif dan sangat menguji kesabaran, namun di situasi tertentu ia berubah menjadi anak yang sangat pengertian. Menjadi anak yang nurut. Ia tertidur lelap karena memang sebenarnya udah ngantuk+capek banget, sih. Dari Seblat sampai kami berhenti istirahat di Ketahun baru terbangun. Saat ia bangun, langsung dengar musik. Langsung goyang-goyang badan. Aku tertawa lagi. Lucu liat matanya yang masih setengah sadar tapi badannya auto goyang. 

Anak aktif emang butuh pengawasan lebih ekstra 

Baca juga: Resep tempe tepung krispi

Lalu kami beristirahat di Masjid. Sekalian sholat zuhur. Kalau aku langsung jamak ke Asar. Dia terlentang di teras masjid. Kecapekan. Kasian juga sih ngeliat Rendra. Hehee.. Tapi nggak apa ya, Nak. Kamu adalah saksi perjuangan Ayah dan Bunda. Moga di suatu hari nanti, saat mungkin kamu udah ada Adek, perjalanan Mudik kita menjadi lebih baik lagi. Aamiinn.. 

Kerja sama Ayah dan Ibu sangat penting dalam mengawasi tumbuh kembang Anak

Jadi buat semua ibu, dan terutama buat aku sendiri, stok sabar nya harus terus kita perbanyak ya, Buu.. Dan teruslah berdo'a buat menjadi ibu yang baik. Serta berdo'a agar anak kita tumbuh menjadi anak yang baik. Karena kita bukan sembarang ibu. Kita adalah seorang Ibu yang sedang mempersiapkan generasi cerdas. Teruslah belajar jadi ibu hebat untuk anak yang hebat. 

Barangkali suatu hari nanti, anak kita bakal menjadi salah satu pemimpin bangsa, pemimpin agama, dll. Aamiinn.. 

Ucapkanlah kata-kata baik, do'a-do'a yang baik buat buah hati tercinta. 😊



11 komentar

  1. kalau anak-anak saya kebanyakan tingkah biasanya karena caper sama maminya yang kerjaaaa mulu, hahaha.
    memang anak-anak tuh dilahirkan, salah satunya untuk mengajari ortunya tentang sabar ya.
    Semangat buat kita para ortu :)

    BalasHapus
  2. Semangat buat kita para ortu, khususnya ibu yang selalu membersamai anak-anaknya 24/7.
    Luar biasa banget harus stock banyak sabar :)

    Btw, kalau naik motor, anak saya yang nomor 2 tuh selalu tidur, tapi karena udah 4 tahun, ribet juga gendongnya, keram tangan mamaknya hahaha

    BalasHapus
  3. Seneng banget bacanya
    Saya happy lihat batita yang menumpahkan air, menumpahkan makanan, menyobek nyobek tisue dll karena pertanda dia aktif, tugas kita meberitagu mana yang salah dan mana yang benar

    BalasHapus
  4. Kalau untuk saat ini sabarnya daku praktikkan ke keponakan karena belum berkeluarga. Tentunya jadi masukan yang bermanfaat buat daku bahwa menjadi orangtua itu memang banyak seninya ya kak

    BalasHapus
  5. Stok sabar memang tak berbatas buat para ibu hebat. Semangat ya Bunda Rendra. Ikut meng-Aamiin-kan yang terbaik untuk ananda tercinta. Inget banget dulu saat sulung saya 2 tahun, saat lebaran kami tetap di Jakarta, enggak mudik ke Jawa Timur karena enggak ada ongkos, jadi dia kami ajakin naik motor keliling kerabat di Jakarta. Eh sekarang sudah 17 tahun dia dan kondisi kami sudah sangat lebih baik, Alhamdulillah.

    BalasHapus
  6. Anak-anak yang sedang dalam usia keemasan memang keingintahuannya berlipat-lipat. Dan karena belum baliqh, mereka tidak mengerti mana yang benar mana yang salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Memarahi atau berkata kasar kepada mereka justru bikin orang tua lelah, stress, bahkan tidak bisa mengendalikan diri dan berpikir jernih.

    Ada masanya. Begitu kata orang tua saya. Karena ketika mereka beranjak remaja lalu dewasa. Tantangan orang tua akan berbeda lagi. Yang tadinya khawatir akan kenakalan anak-anak, berubah menjadi urusan pergaulan dan lingkungan mereka. Lalu ada juga urusan finansial terutama untuk biaya sekolah.

    Jadi menikmati semua prosesnya adalah salah satu langkah terbijak yang bisa kita lalui. Menjadi orang tua pun adalaha fase yang akan kita lewati seumur hidup tanpa pendidikan formal.

    BalasHapus
  7. Setuju sekali tidak ada anak kecil yang nakal ya Bund... Yang ada orangtua yang tidak sabar atau orang tua tidak paham dunia anak dan bagaimana mengendalikannya...hehe...

    BalasHapus
  8. Ih, keren sekali dedek Rendra, anak baik memang hebat, kok ya. Sehat-sehat terus ya, Nak. Semoga menjadi anak yang saleh, aamiin

    BalasHapus
  9. Ah iya, sebenarnya nggak ada anak nakal
    Yang ada hanya anak yang ingin mengeksplorasi sekitarnya
    Makanya aktif banget, gitu ya mbak

    BalasHapus
  10. Seorang ibu harus punya stok sabar yg tak terbatas ya bund, krn ucapan ibu juga doa utk anaknya. Kudu melontarkan yg baik2 saja. Semoga ibu2 lain tidak terlalu mudah melabeli seorang anak sebagai anak nakal krn aktif mengeksplorasi.

    BalasHapus
  11. Rendra pintar sekali 🥰
    Betul mbak, kadang saat orang tua kelepasan ngomong ke anak karena tingkahnya, membuat sang anak mengingat kata-kata itu sampai dia besar yg bahkan ibu atau ayahnya sendiri yang pernah mengucapkan sudah tidak ingat lagi. Takut menjadi luka bagi anaknya dan dibawa sampai dia besar nanti ☹️ maka kita perlu hati-hati sekali berucap dan bertindak kepada anak.. (sebagai pengingat untuk diri saya sendiri juga)

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan komentar yang baik-baik ya teman-teman. :-)

Blogger Perempuan Network

Blogger Bengkulu